petunjuk-Nya...
Saat itu saya bersama dengan 2 rekan kantor sedang terlibat pembicaraan ringan di jam makan siang. Sebagai makhluk yang kecanduan akan twitter, obrolan pun saya sambi dengan kegiatan buka-buka timeline. Sekedar ingin melihat ada berita apa di siang yang panas ini. Sampai akhirnya saya pun membaca sebuah tweet seperti berikut :
"Berjilbab itu bukanlah pilihan untuk mau atau tidak namun memang kewajiban yang harus dikenakan setiap saat."
Tiba-tiba, memory ini berjalan mundur ke beberapa waktu silam. Saat saya belum memutuskan untuk mengenakan jilbab. Lalu arah pembicaraan pun berubah, menjadi share pengalaman kenapa saya tersadar untuk berjilbab. Dan, saya pun ingin menuliskannya disini. Sekedar berbagi... :)
Sebenarnya, keinginan untuk berubah sudah lama. Bahkan dulu saya pernah berkeinginan ketika lulus SMA, saya akan kuliah mengenakan jilbab. Namun namanya anak muda, keinginan itu tertutup dengan model fashion terbaru, dan sebagainya. Sampai tiba-tiba, beberapa kejadian penting ini membuka mata hati saya.
1. Saat itu, saya yang masih berdomisili di Bandung untuk kuliah, saat liburan ceritanya pulang melepas rindu ke rumah di Bekasi. Dan waktu itu, ketika saya sudah bersiap mau keluar rumah (lupa saya mau kemana pastinya) tiba-tiba dihalangi oleh adek saya yang paling kecil, namanya Tifa.
Tifa : "Awe.. jangan ah mba nggak boleh keluar." (*sambil tangannya membentang ngalangin jalan)
Saya : "Ih kenapa sih dek.. awe udah telat nih"
Tifa : "Awe rambutnya keliatan. Pake kerudung dulu sana."
Saya : "Adeekkk... awe nggak punya kerudung. Udah ya awe mau pergi nih."
Tifa : "Itu mama punya banyak mbaa... pinjem mama aja..."
Itu cuplikan percakapan saya dengan Tifa, yang saat itu baru TK. Saya yang sudah kuliah, kalah dengan anak TK :(
2. Saat itu, entah kerasukan apa teman-teman di kelompok, mereka memilih saya menjadi ketua kelompok untuk kegiatan semacam rohis. Mau nggak mau saat itu saya jadi aktif di kegiatan tersebut. Dan sampai suatu ketika, saya mendengar sang pembicara berkata :
"Untuk mengenakan jilbab tidak perlu menunggu siap atau tidak. Karena kematian pun datang tidak menunggu kita untuk siap atau tidak."
Another dhegg!! moment... :((
3. Saya punya seorang teman non muslim. Dia tau, saya sedang 4G. Galau. Gelisah. Gundah. Gulana.
Sampai mungkin dia tidak tahan melihat kegalauan saya tentang apa saya harus berjilbab atau tidak. Dia pun akhirnya berkata :
"Ya ampun feb, gue nih yang jadinya bingung.. sebenarnya berjilbab itu ada di kitab lo atau nggak?"
"Ada.."
"Lalu kenapa musti bingung?? Tuhan lo sendiri yang nyuruh kenapa musti masih ada tapi-tapian?? Giliran *nitt* (nama disensor) yang nyuruh lo kelabakan patuhnya bukan main."
Baiklah... Kejadian terakhir itu benar-benar membuat saya berhenti berfikir. Masalah agama, urusannya sudah saya dengan Sang Pemilik Hidup. Dia yang memberikan saya hidup, dan nikmat-nikmat lainnya dengan cuma-cuma. Namun saat saya diperintahkan untuk berjilbab, begitu banyak alasan yang dibuat. :(( Mungkin Dia ingin melihat, se-keras kepala apa saya terhadap perintah-Nya.
Sebenarnya, saat saya sedang mengetik postingan ini, saya pun sadar bahwa saya belum berjilbab. Saya masih berkerudung. :((
Astaghfirullah...
Luar Biassa...
BalasHapusNice shared feb..dan itupun yg saat ini sedang aku rasakan,bergumul antara hati dan pikiran,terutama perintah-Nya:(
BalasHapusSemoga aku dapat segera mengakhiri pergumulan ini.Bantu doa kawan.
Seseorang yg mengenalmu
sama ama sang anonim di atasku, aku juga masih bergumul dengan semua keraguan mengenakan ini..
BalasHapusah ntahlah, semoga saja hidayah segera menghampiriku...
oya, rumahku di RAINBOW BOOK .. :) salam kenal ya..
BalasHapusNumpang liat2 mbak. Mf oot dari post.
BalasHapussemoga temen saya membaca postingan anda
BalasHapusbiar terbuka pintu hatinya
heheh
nice share,,,
salam kenal...