Baduy Tribe Tours

Postingan ini mungkin termasuk postingan hutang. Sampai saya lupa tepatnya tanggal berapa perjalanan ini, sepertinya di pertengahan bulan September 2012, dan yang jelasnya sih harinya Sabtu - Minggu. As always, cuma bisa memanfaatkan week end dan tanggal merah karena status pegawai yang masih bisa dibilang 'gress' sehingga jatah cuti besar itu belum bisa digunakan :(

Perjalanan ini pun terbilang mendadak. Senin sore saya baru dapat info, selasa ajak pasukan tambahan, rabu minta izin orang tua, kamis izin di approve, jumat belanja perlengkapan, dan sabtu, saatnya bersenang-senang...

Tidak mau mengulang insiden 'ketinggalan beruntun' seperti kisah di tidung lalu, saya pun bersiap untuk perjalanan ini sudah dari hari Jumat, dan bermalam di kosan seli. Pagi-pagi, jam 6 saya, seli, dan ka wulan mengalami syndrom H2C. Yang nggak tau H2C, itu loh.. syndrom yang melanda para cowok cowok SMA yang nembak cewek, dan si cewek berkata, "kasih waktu 3 hari ya, buat berfikir....". Nah! selama 3 hari itulah, perasaan H2C melanda si cowok. Namun, kami bukan H2C sama cowok cowok SMA, tapi sama abang taxi! :( Pesan taxi dari malam, agar jam 6 kurang 15 sudah menjemput, tapi ternyata itu si abang nggak sampai-sampai. "Asal tau aja sih bang, nggak ada taksi abang, masih banyak abang abang lain yang siap mengantarkan kami sampai stasiun." Karena takut telat ditinggal kereta, akhirnya kamipun beralih ke hati, eh, ke abang taxi lain.

Akhirnya, sampai juga di stasiun tanpa telat. Bahkan bisa dibilang, kami termasuk rombongan yang awal sampai. Bahkan leader dari perjalanan ini malah belum sampai.
MySpace
pose di Stasiun Beos, Jakarta Kota
Setelah semua personil lengkap, kami segera masuk ke kereta ekonomi jurusan rangkas bitung. Dan ini, lagi lagi adalah pengalaman pertama saya yang menakjubkan! (You should say 'wow'! Yes, please.. say it..!) Saya kira, se-ekonomi-ekonominya kereta ya nggak separah itu. Apalagi saya sering dengar dari teman teman bahwa kereta ekonomi sekarang sudah enak. "Tapi ini? mana buktinya wahai adinda...?? huh.. dasar penipu kau ani..!"

Sepanjang perjalanan, suara suara seperti "mijon..mijon.. aqua.. aqua" terus berkumandang. Abang abang penjual aksesoris wanita, dengan tiba-tiba suka langsung nemplokin barang dagangannya di tengah-tengah cubicle kami. Kursi untuk berdua, namun orang dengan seenaknya nyelip nyelip ditengah minta dipangku, eh minta geseran. Nggak hanya duet mijon-aqua, abang abang yang menawarkan jasa ukur tensi darah pun ada disini! Nggak sekalian ada yang medical check up ya? Dan yang paling mendapatkan kesan adalah, ada 'suster ngesot'-nya!MySpace

Entah sampai ke rangkas bitung, ada berapa orang yang berprofesi seperti ini. Sebenarnya, baik sih profesinya, yaitu nyapu-nyapuin kereta, ngebersihin sampah-sampah, sampai jongkok, duduk, dan ngesot ngesot. Cuma, dibalik itu mereka minta upah. Wajar sih, cuma 500-an aja. Tapi cara mereka meminta sungguh tidak terpuji :( Diantara ratusan bahkan ribuan orang yang ada di dalam kereta itu, nggak semua orang berbaik hati menuruti kemauan mereka, memberikan 500, 1000, bahkan 2000. Tapi jika tidak diberi, yasudah lanjut aja ke penumpang selanjutnya. Atau ya nggak usah disapuin itu lantainya, beres kan. Tapi, mereka itu malah memaksa.
Kira kira seperti ini percakapan yang terjadi dilokasi. Sebut saja, saat itu bunga yang cubicle nya sedang di bersihin :
"Mba, gopek mba."
"Maaf, nggak ada mas."
"Mba, jangan pelit mba, gopek aja."
"Nggak ada mas."
"Mba, kok pelit banget sih lo mba. Pake kerudung kan? gopek aja nggak mau kasih?"
"........."
"Mba, percuma, lepas aja udah kerudung lo mba. Gopek aja nggak mau kasih."
" #^%&!@&!@*()#$, azzzzz........ "


Mungkin terbaca agak mengerikan ya, tapi suer, kisah ini jangan jadikan bagi siapapun yang membaca, patah arang untuk naik kereta ekonomi ya. Kalau rame rame, seru kok! Apalagi besoknya bisa jadi bahan cerita cerita ketawa ketiwi. :D

Setelah perjalanan kereta yang super tersebut, dilanjut naik mobil charteran, diselipi dengan jajan dan makan siang, akhirnya kami sampai di suatu tempat. Jujur, saya nggak tau apa nama tempat itu :p Soalnya asal nemplok aja, ikut rombongan kemana ya saya juga kesana. Di suatu tempat itu, ternyata kami sudah dijemput oleh orang dari suku Baduy yang akan menjadi guide selama tracking ke desa mereka. Kedatangan kami sangat disambut dengan super duper ramah, dan ceria. Mereka pun berebutan minta tanda tangan dan foto bareng. Eh, ngarep. Yang ada, kami yang gantian mengajak mereka untuk berfoto bersama. Foto dengan masyarakat dari salah satu suku yang adatnya masih terjaga dengan kental, siapa yang menolak? Tapi saya saat itu cuma terkapar kelelahan jadi cuma belum foto foto banyak deh dengan mereka.

Tracking pun dimulai. Cuaca saat itu sungguh panas menyayat. Udah gitu, banyak ladang yang memang sedang dibakar untuk kemudian ditanam tanaman yang baru. Dan, medan trackingnya itu nggak hanya datar, tapi naik turun bukit. Dari yang agak miring, miring, miring banget, dan amat sangat miring! Beban ransel terasa berkali kali lipat. Dan langsung, saat itu saya menyesal membawa barbel, eh maksudnya, membawa barang barang yang sebenarnya tidak diperlukan, namun karena suka berfikir "takut nanti ada ini, butuh ini, butuh itu.." jadi dibawa deh, dan beratnya ampun udah terasa kayak bawa bawa barbel. :(

Berapa jam ya perjalanan tracking? Hmm, kayaknya sekitar 2-3 jam, karena kami banyak mampir istirahatnya juga sih. :D Selama perjalanan, awalnya saya masih bisa haha-hihi, bercanda, bercengkarama, bernyayi, berloncatan, dan ber-ber-lainnya. Lama lama, saya cuma bisa diam, irit nafas, dan berdoa semoga apa yang orang Baduy bilang "tenang, sebentar lagi kok.." itu bukan cuma janji manis.





Juli terkesima melihat saya ? :p
Saran saya, jangan mudah percaya oleh ucapan pemuda pemuda Baduy ini. Jelas aja mereka bilang "dekat kok.. tinggal sebentar lagi..", ya karena mereka memang biasa tracking seperti itu. Sehat pasti. Ke Jakarta saja, mereka jalan lhoo.. Perjalanan Baduy ke Jakarta tersebut mereka tempuh dalam waktu 2 hari-an katanya. WOW!

Akhirnya, yang kami nantikan pun terwujud. Kami pun tiba di pemukiman mereka. Kesan pertama sampai sini, begitu menggoda. Bukan berlebihan jika banyak yang ketagihan untuk berkunjung lagi lagi dan lagi ke Baduy. Masyarakat sana sangat ramah. Baru pertama saya menemui tipikal orang yang seperti ini. Tidak ada satupun yang saya kenal disana, namun saya merasa disambut oleh keluarga yang sudah lama tidak jumpa. Mereka duduk menghampiri, bertanya tanya dengan sopan, bercerita tentang adat disana, menawari ini dan itu, dan kami pun langsung berbagi cerita dengan lancarnya.!

Adat yang berlaku disana, sungguh mereka jaga. Mereka pun sangat menghormati pemimpinnya, yang disebut dengan pu'un. Sampai-sampai, urusan pemberian nama anak, juga mendengarkan masukan dari pu'un nya. Adat yang saya sebagai tamu, juga harus patuhi adalah, tidak boleh memakai wangi-wangian dan bahan kimia lainnya. Termasuk mandi tidak boleh memakai sabun, shampo, odol, dan sebagainya. Sangat logis kok alasannya, pencemaran lingkungan! :) Mereka hidup dari alam tersebut. Makan dari hasil bercocok tanam, minum, mencuci beras, mandi, dan sebagainya dari sungai yang mengalir. Jika alam tidak dirawat, tentu kebutuhan hidup mereka juga akan terganggu.

Satu yang saya saat itu tidak paham adalah, mereka tidak boleh menggunakan dengan teknologi. Sampai, memakai sandal pun tidak. Maka dari itu mereka jika ke Jakarta dengan berjalan kaki, bukan dengan kereta atau bus. Saat itu saya berfikir, apa tidak bosan ya hari-harinya. Tanpa tv, handphone, update twitter, facebook, blog, dan semacamnya :p Tapi semua terjawab saat malam tiba.

Setelah kami selesai bersih bersih, makan-makan, ngobrol ngobrol, meraka lanjut masak lagi doong :( oh god, yang tadinya saya bersorak karena tracking yang pastinya membakar lemak, tapi ternyata disini disuguhkan dengan makanan tanpa henti :( Tapi enaaak. Jadilah tetap saya makan :P.

Lalu, 1 lagi yang saya kagum. Ketika ada 1 rumah yang memasak makanan agak banyak, tanpa segan langsung dia mengundang siapapun yang ada disana. Tetangga-tetangga, tamu tetangga, dan orang lewat. Semua diundang untuk makan bersama. Terbayang kan obrolan apa saja yang kemudian bergulir? Penuh! Topik tiada henti. Canda tawa, dan kisah kisah menarik mereka ceritakan. Sampai tanpa sadar, malam sudah larut. Jadi ini jawabannya, mereka tidak membutuhkan segala macam teknologi-pembunuh-waktu tersebut. Karena, waktu justru terasa sangat cepat.

Esok harinya, kami mandi di sungai yang segaaaar \m/. Selagi kami para wanita mandi, yang lelaki pun asik masak-masak (lagi). Jadi sampai pondokan, kami sudah disambut lagi dengan makanan. Santap nikmat! :D Oia, mungkin adegan mandi tanpa sabun-shampo ini, membuat beberapa orang bergumam "ih jorok.. nanti jerawatan, nanti panuan,dsb", tapi suer, kulit masyarakat Baduy sana, aduhai.. Dalam satu kesempatan ada mba mba Baduy yang juga mandi bareng kami. Ampun, kulitnya putih mulus. \m/

Lagi-lagi, waktu terasa sangat cepat. Tiba tiba sudah waktunya kami untuk kembali ke Jakarta. Satu lagi pengalaman tak terlupakan yang saya dapat. Next, dari 1,128 suku bangsa di Indonesia, suku mana lagi yang akan kita kunjungi? :)

Cerita lainnya dari perjalanan ini, bisa dibaca di link ini :D .


“Buyut nu dititipkeun ka puun nagara satelung puluh telu bangawan sawidak lima pancer salawe nagara gunung teu meunang dilebur lebak teu meunang dirusak larangan teu meunang dirempak buyut teumenang dirobah lojor teu meunang dipotong pondok teu meunang disambung nu lain kudu dilainkeun nu ulah kudu diulahkeun nu enya kudu dienyakeun”

Komentar

  1. ish.. udah nyampe baduy aja, aq blm sempet jalan2 lagi =.=

    BalasHapus
  2. hihihi.. bulan bulan kemarin emang lagi banyak ajakan jalan jalan bong :p

    Aku pengen banget banget ke dieng nih bong belum sempat sempat. Pengen wisata yang dingin dingin :p

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer