Trauma

Trauma adalah luka. Yaa... bisa dibilang luka hati yang membekas dan susah untuk di obati.
Trauma, selain mempunyai sebab, juga membutuhkan korban. Tanpa korban, trauma tidak akan pernah tercipta. Korban dari trauma juga bukanlah sembarang korban, melainkan korban manusia (human victim). Secara psikologis, trauma adalah penghayatan subyektif-negatif atas suatu peristiwa obyektif. Dan hanya manusialah yang memiliki ‘privilese’ untuk mengalami itu. Walaupun korbannya adalah manusia, trauma tidak harus dialami oleh satu orang saja. Trauma bisa dialami oleh sebuah desa, sebuah suku, sebuah bangsa, dan bahkan di alami oleh ‘kemanusiaan’ sebagai keseluruhan.
Pertama-tama, trauma bukanlah sesuatu yang muncul dari kekosongan, melainkan memiliki sebab yang jelas. Trauma adalah akibat yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Tanpa faktor-faktor tersebut, trauma tidak akan pernah tercipta. Artinya, penyebab dari trauma adalah sesuatu ‘yang lain’ dari trauma itu sendiri.
Kedua, trauma memiliki kecenderungan untuk mengalami peningkatan intensitas. Selama sebab dari trauma itu masih ada, selama itu pula intensitas trauma akan terus meningkat.
Ketiga, trauma akan terus ada, walaupun sebabnya sudah tidak ada. Jadi, walaupun sebabnya sudah tidak ada, trauma akan terus ada. Trauma tidak langsung lenyap, ketika sebabnya sudah tidak ada. “Selama korban dan keturunannya masih hidup, trauma tidak akan hilang, tetapi menyelinap secara tidak kelihatan ke dalam waktu dan ketidaksadaran.”
Dan keempat, trauma akan berlangsung selama-lamanya. Bahkan jika orang yang mengalami dan keturunannya sudah tidak ada, trauma terus ada, dan berubah menjadi semacam legenda tragis dari masa lalu, serta terus menghantui peradaban selanjutnya. Jadi, trauma memiliki karaker ‘keabadian’. Dengan karakter ini, kita bisa dengan mudah membedakan trauma dari shock, kesedihan, ataupun stress, yang walaupun membuat korban mengalami penderitaan, tetapi penderitaan tersebut tidak berlangsung ‘abadi’.
Aku dapat informasi ini dari
http://rezaantonius.wordpress.com/2008/04/25/filsafat-trauma-sosial/
Aku juga ada pengalaman sedikit tentang trauma.
Sebenernya aku gag tau pasti ini trauma atau hanya rasa cemas biasa.
Waktu itu aku pernah kecopetan. HP ku dirampas. Kaget, shock, marah, dan sedih.
Sebelumnya temanku yang kena. Dan saat itu aku ada tepat disampingnya. Aku liat ada orang yang langsung menarik paksa handphonenya.
Setelah kejadian itu, aku jadi paranoid sendiri. Setiap aku jalan lalu aku dengar langkah kaki dari arah belakang dengan cepat, aku langsung kaget dan reflek tas aku peluk sekuat tenaga. Selalu seperti itu sampai orang yang berjalan di belakang ku itu mendahuluiku dan aku tau kalo dia bukan penjambret, brarti keadaan aman.
Cape sebenrnya punya perasaan kaya begini.
Selalu kaget dan takut kalo dengar ada langkah kaki di belakang.
Pikiranku langsung negatif, ada orang yang lagi buntutin aku dan mau jambret.
Pernah aku berusaha melawan perasaan itu.
Tapi seluruh badanku gemetar sendiri. Dan aku pun memang saat itu mencoba untuk tidak memeluk erat tasku karna aku tau sebenernya keadaan aman, hanya perasaanku saja yang terlalu takut. Tapi air mataku saat itu langsung menetes, jalanku pun sedikit menunduk. Rupanya rasa takutku menang.
Sampai aku tulis blog ini, rasa takut ku terhadap suara langkah kaki dibelakangku belum hilang juga.
Semoga aku gag harus selamanya hidup dalam keadaan seperti ini.
:)


Komentar
Posting Komentar